Menyelamatkan Pipit

17 11 2007

Oleh: Oom Evin

                 Ada satu hal yang menarik perhatian Ari sebulan belakangan ini. Ari semakin rajin mendatangi kebun rambutan Pak Daenk yang tak begitu jauh dari rumahnya. Biasanya, bersama temannya Sutan, Deny, dan Fauzi, sesekali mereka suka main kelereng di halaman dekat kebun itu. Namun kini hampir setiap hari Ari datang ke kebun itu.finch

                Biasanya Ari datang ke kebun Pak Daenk sendirian. Berjalan mengendap, takut ketahuan Pak Daenk yang suka marah jika anak-anak bermain di kebunnnya. Jika berada di sana Ari selalu menuju pohon rambutan yang itu-itu saja. Ia betah berlama-lama menatap cabang pepohonan. Mengamati gerakan-gerakan di antara rimbun dedaunan.

                Jika kebetulan sedang bermain kelereng dengan temannya, Ari sesekali melirik pohon rambutan itu. Tetapi ia tak ingin teman-temannya tahu. Ia berusaha untuk tidak menarik perhatian mereka.

                Kalau mau berangkat ke pohon rambutan itu, Ari biasanya membawa segenggam beras dari rumahnya. Setibanya di pohon rambutan yang sama, Ari akan menebar beras itu di bawah pohon.

“Pssst, pipit manis! Ini kubawakan makanan untukmu!” desisnya pelan sambil tetap mengawasi cabang pepohonan.

Setelah menebar beras, Ari pun bergegas menjauh. Ia akan jongkok bersembunyi di balik pohon rambutan yang lain sambil mengawasi. Biasanya tak lama setelah ia sembunyi, seekor burung pipit berbulu lurik kecoklatan turun menghampiri beras yang ditaburnya.

Burung itu melompat-lompat mematuki beras yang disebar Ari. Sesekali menatap sekitar lalu mematuk lagi, melompat lagi, begitu seterusnya sampai beras itu hampir habis. Setelah merasa kenyang, si burung pipit akan kembali ke dahan sambil menyenandungkan kicau yang merdu.  

Ari suka melihat tingkah burung itu makan. Ia juga suka mendengar kicau merdu si pipit. Karena itulah ia setiap hari mendatangi pohon rambutan itu dan menebar beras di sana.

Ia mengetahui keberadaan burung pipit itu secara tak sengaja. Seminggu yang lalu saat menunggu Sutan, Fauzi, dan Deny bermain kelereng, ia tertarik melihat seekor burung yang terbang bolak-balik dari semak belukar ke pohon rambutan itu. Setiap kali melintas, si burung pipit selalu membawa setangkai rumput kering di paruhnya. Ari pun mendekati pohon rambutan dan melihat si burung sedang menjalin sebuah sarang.

Penasaran, Ari kemudian kembali lagi keesokan harinya. Ia melihat sarang itu sudah selesai. Tersembunyi di salah satu cabang pohon rambutan yang tak terlalu tinggi. Sementara  kepala si burung pipit terlihat sedikit menyembul di balik sarang dari rerumputan kering itu.

Sejak itu Ari selalu menyempatkan diri datang ke pohon rambutan itu. Sesekali membawa remah roti, beras, bahkan pecahan kerupuk. Tetapi si pipit tak suka pecahan kerupuk. Ia lebih suka beras atau remah roti. Maka Ari pun senatiasa membawa segenggam beras dan menaburnya di bawah pohon rambutan itu. Begitulah kebiasaan baru Ari.

Tetapi siang ini Ari terkejut bukan kepalang. Ia mendapati si pipit tergeletak diam di tanah.

“Astaga! Pipit… ngapain kamu di situ?” Ari mendekat. Pipit itu tidak bergerak. Ari mengambil sepotong kayu dan menggeser-geser tubuh si burung itu. Si pipit tetap diam tak bergerak. Barulah Ari tahu, ada beberapa lubang kecil di dadanya yang meneteskan darah. Si pipit agaknya sudah mati. Ari menangis sedih.

“Pipiiittt! Kamu jangan mati!” jeritnya pilu.

Sekoyong-konyong, Ari mendengar erangan dari cabang pohon rambutan. “Meooong… meooong… meooong!”

Ia menatap ke atas. Di dekat sarang si pipit, tampak seekor kucing berbulu kuning sedang menatapnya. Si kucing tampak gelisah berusaha untuk turun. Gerakannya menyebabkan sarang si pipit bergerak dan oleng.

“Awas, kucing nakal!” pekik Ari. Ia melemparkan ranting ke arah si kucing. Si kucing kaget dan bergerak panik. Gerakannya membuat sarang si pipit semakin oleng dan jatuh ke tanah.

“Oh… jangaaan!” seru Ari. Namun sarang itu sudah jatuh. Sementara si kucing

melarikan diri dan menghilang ke arah rumah Pak Daenk.

                Ari semakin sedih. Ia mengangkat sarang si pipit dan menemukan tiga butir telur yang berukuran kecil. Satu di antara sudah pecah. Dengan amat sedih, Ari mengutip dua telur lainnya dan menaruhnya di dalam sarang. Kemudian ia membungkus tubuh si pipit yang mati dengan plastik dan membawanya pulang.

Air matanya masih meleleh ketika Mama melihatnya pulang.

“Ari, kenapa menangis?” sapa Mama lembut. “Apa yang kau bawa itu?”

Ari sesunggukan. Sambil meletakkan sarang burung dan plastik itu di tanah.

“Boleh Mama lihat?” Mama memeluknya.

Ari mengangguk.

“Dari mana kamu dapat telur dan sarang burung ini?” kata Mama. “Lalu yang di dalam plastik itu apa, Ri?”

                Setelah menyeka air matanya Ari menjawab lirih. “Itu si pipit, Ma. Ia mati gara-gara si kucing nakal!”

                Mama membuka gulungan palstik dan menemukan seekor pipit yang sudah kaku berlumur darah. “Hei, cepat kita kubur saja burung ini. Dan lekas basuh tanganmu dengan sabun!” Mama kaget juga. Lalu ia segera ke gudang mengambil sekop.

                Ari menguntitnya dari belakang. Mama pun menggali liang di sudut pekarangan, lalu mengubur si pipit.

                “Ma, kasihan si pipit. Ia sedang bertelur… tapi ia mau dimakan si kucing nakal!” kata Ari pelan.

                “Ya, sudahlah Ri.” Mama membimbingnya ke kamar mandi. “Mungkin si kucing lapar. Ia melihat kesempatan untuk menyantap si pipit. Itu sudah bagian kehidupan satwa,” Mama berkata dengan penuh kasih sayang sambil membasuh tangan Ari dengan sabun.

                “Tapi Ma, kan kasihan si pipit. Ia belum bisa mengerami anaknya. Tadi ada satu telur yang pecah! Sekarang bagaimana telur itu bisa menetas?”

                “Hmmm, ya sudahlah. Nanti telurnya kita erami dengan memakai lampu saja. Biar Bapa nanti yang membuatkannya,” kata Mama.

 

***

 

Seminggu setelah Bapa membuat alat penetas, anak-anak pipit itu pun menetas. Setiap hari Ari, Bapa dan Mama merawatnya hingga besar di dalam sangkar. Setelah pipit-pipit muda itu cukup kuat untuk terbang, Bapa mengajak Ari ke padang luas di pinggir kota.

                “Nah, Ari. Tugasmu merawat anak-anak pipit ini sudah selesai,” kata Bapa lembut. “Sekarang lepaskanlah anak-anak pipit itu agar mereka bisa hidup bebas.”

                Ari mengangguk pelan. Setelah mengucapkan kata perpisahan ia membuka pintu sangkar. Dua anak pipit itu menatapnya. Mulanya ragu, namun akhirnya dengan senang mengepakkan sayapnya dan terbang keluar sangkar. Mereka berkicau senang.

Walau ada rasa sedih, tetapi Ari bersyukur. Bahwa ia sudah menyelamatkan kedua anak pipit itu. Kini biarlah pipit-pipit muda itu melanjutkan hidupnya. Terbang bebas di alam. *


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: