Ania Tersenyum Lagi

23 11 2007

*Frinnie Lim

 Ania baru saja kehilangan ayahnya akibat kecelakaan kereta api beberapa waktu lalu. Ia kini menjadi anak yatim, karena itu Ania selalu bersedih. Ia sering teringat akan kenangan-kenangan indah bersama sang ayah.

Ania adalah anak bungsu dan ia begitu dekat dengan sang ayah. Setiap akhir pekan ayahnya sering mengajak ia ke kolam renang atau ke kolam pancing ikan. Bila sedang tak ingin bermain, Ania akan menemani ayahnya memancing. Ania akan tertawa gembira bila sang ayah mendapat pancingan ikan mas yang cukup besar.

Hari-hari penuh tawa dan canda dengan ayahnya membuat Ania sulit melupakan kepergian sang ayah. Setelah hampir delapan bulan ia masih sering menangis dan bermimpi tentang ayahnya.

Dalam kesehariannya pun Ania jadi anak yang pemurung. Padahal sebelumnya ia adalah anak paling ceria di kelasnya. Beberapa sahabat Ania di kelas lima SD jadi merasa kehilangan. Karena setiap kali mereka mengajak Ania bermain di taman sekolah, ia sering menolak.

“Kasihan Ania, ya,” seru Tuti teman sebangkunya, kepada Boby dan Dina. Mereka berempat adalah sahabat karib sejak kelas satu SD. Tapi kini sejak Ania sering murung, mereka jadi merasa kasihan. Ketiganya lalu berusaha membuat sahabat mereka itu bisa ceria kembali. Tapi seringkali usaha itu gagal.

Hingga suatu hari, Ania yang terlambat dijemput supir ibunya harus menunggu di warung Pak Karim yang ada di samping sekolah.

“Mau minum apa, nak?” tanya Pak Karim.

“Teh manis dingin saja, Pak! Saya masih nunggu supir. Katanya telat satu jam lagi,” ujar Ania dengan nada mengeluh.

“Kalau begitu sama roti sekalian, ya. Nanti kalau kelamaan kamu bisa lapar,” ujar Pak Karim menawarkan.

“Terimakasih, Pak!” sambut Ania sambil sedikit tersenyum. Pak Karim memang terkenal baik hati dan ramah.

Pak Karim sedih juga melihat Ania yang tampak murung sambil meminum teh manis dinginnya. Biasanya anak itu mengajaknya bercerita soal apa saja yang ia alami di sekolah atau ketika berakhir pekan dengan sang ayah.

Tak berapa lama seorang anak perempuan, kira-kira sebaya dengan Ania, keluar dari dalam rumah Pak Karim dan berjalan menuju warung. Ania agak heran melihat anak itu karena sebelumnya ia tak pernah melihatnya.

Anak itu tersenyum pada Ania dan mendekatinya.

“Halo,” sapanya sambil mengulurkan tangan.

“Halo juga,” sambut Ania sambil membalas uluran tangan itu.

“Saya Atty, keponakan Paman Karim, sekarang saya tinggal di sini membantu paman dan bibi berjualan di warungnya,” seru anak itu bercerita.

“Saya Ania. Kamu nggak sekolah?” tanya Ania, sebentar ia lupa pada kesedihannya.

“Nggak lagi. Nggak ada biaya, di kelas empat saya berhenti karena nenek yang sudah tua nggak bisa kasi uang sekolah lagi,” terangnya. Kisah Atty membuat Ania turut prihatin, tapi ia tidak melihat wajah Atty menjadi sedih.

            “Terus, ibu sama bapak kamu gimana?”  tanya Ania lagi dengan hati-hati.

“Mereka sudah nggak ada. Waktu aku masih kecil sekali mereka meninggal karena kecelakaan bus, jadi aku tinggal dengan nenek,” ceritanya lagi.

“Kamu nggak sedih?” tanya Ania yang tiba-tiba merasa punya teman senasib.

“Karena aku nggak pernah ingat mereka kayak apa, aku nggak sedih mengingat mereka. Tapi aku kadang sedih melihat anak sebayaku bisa jalan dengan ayah ibu mereka,” ungkap Atty lagi.

Kemudian mereka pun saling bertukar cerita soal kepergian orangtua masing-masing. Setelah sekian lama berdiam diri, kini Ania merasa punya teman berbagi yang tepat. Terlebih Atty sepertinya sangat mengerti dengan kesedihannya. Meski Ania sendiri tak mengerti mengapa Atty tampaknya tak sesedih dirinya.

“Aku baru kehilangan ayah saja sudah sedih sekali. Kamu yang sudah kehilangan keduanya kenapa tidak sedih?” tanya Ania memberanikan diri. Mendengar itu Atty tersenyum.

“Nenek sering menasihatiku, kalau hidup itu memang akan ada habisnya. Semua orang akan meninggal Ania. Tapi orang yang baik dan selalu bahagia yang akan pergi ke surga. Lagi pula menurut nenek, ibu dan bapakku akan sangat senang di surga bila mereka melihat aku sangat bahagia di dunia ini,” jelas Atty.

“Tapi aku sedih bila ayahku tak ada bersamaku,” timpal Ania.

            “Semasa hidupnya, kamu pernah melihat ayahmu bersedih?” tanya Atty.

“Nggak pernah. Ia orang paling ceria yang pernah kukenal,” kenang Ania.

“Karena itu, kamu nggak perlu terlalu lama bersedih. Kalau kamu merasa sedih kamu tersenyum saja dan pandang ke langit. Pikirkan kalau pada saat itu ayahmu sedang tersenyum memandangmu yang tampak bahagia. Kamu juga harus berdoa agar ia masuk surga Ania,” jelas Atty panjang lebar  dan tersenyum menghibur.

“Aku selalu melakukan itu bila rindu orangtuaku,” tambah Atty lagi.

Ania terdiam sebentar dan merenung. Ia teringat kata-kata ayahnya, “Ayah bangga karena Ania anak yang periang. Kamu harus tetap begini sampai dewasa, ya?” pinta ayahnya, dan Ania mengangguk mengiyakan.

Di rumah, Ania merenungi kata-kata Atty di sekolah. Sejak saat itu ia bertekad untuk tetap jadi anak periang. Ia pun kini bersahabat baik dengan Atty dan sering mengajaknya belajar bersama, meski Atty tidak bersekolah.*


Aksi

Information

One response

25 06 2009
ania

itu cerpen apa kisah nyata.. baguz…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: