Kucing Yang Sombong

23 11 2007

*frinnie lim

 Igor, begitu kucing berbulu loreng putih kelabu itu selalu disebut tuannya. Tubuhnya yang gempal berisi dan bulu-bulu halus yang bersih membuat ia begitu disayang sang tuan. Ia juga diberi makanan istimewa berupa potongan daging atau ikan segar setiap harinya. Maka jadilah si Igor kucing manja yang sangat cantik.iGOR

Tapi sayang kucing jantan itu begitu sombong. Karena ia selalu mendapat makanan yang bersih, tempat tinggal yang hangat dan nyaman. Ia  suka mencemooh kucing-kucing jalanan yang jorok dan berbulu kusam. Ia juga tak suka bergaul dengan mereka.

Ketika usia Igor masih kecil ia tak mau bermain-main di jalan seperti kucing yang lain. Ia suka bermain di rerumputan yang bersih dan hijau. Ia benci jika bulu bersihnya terkena debu sedikit saja.

“Kalau aku pulang dengan tubuh kotor, nanti tuanku tak ingin menggendong aku lagi,” jelasnya pada kucing lain.

Kebiasaan Igor yang paling menyebalkan bagi kucing lain adalah kesenangannya mengejek mereka.

“Hey lihat, si Blurik itu. Huh, bulunya bau sekali, kusam lagi. Aku berani bertaruh ia tak akan sedetikpun disentuh tuannya. Barangkali ia tak pernah diijinkan masuk ke rumah,” ujarnya dengan nada sombong.

“Sudahlah Igor, tak perlu bicara begitu. Kamu kan beruntung saja dapat tuan yang baik. Coba kalau kamu seperti kami ini yang harus tidur di jalanan, bulumu pun tak akan sebagus itu,” ujar si Hitam yang sejenak berhenti membersihkan bulunya dari debu.

“Ah, itu kan karena kebodohan kalian saja. Tak bisa merayu tuan kalian. Coba kalian secerdik aku, yang sangat pintar membuat tuanku bertekuk lutut,” kilahnya lagi.

“Ayo teman-teman, tak usah didengar lagi kucing sombong itu. Suatu hari ia pasti kena batunya,” ajak si Loreng hitam kuning pada kucing-kucing lain.

Begitulah Igor. Tak peduli meski tak punya teman bermain. Ia begitu menikmati kemewahan dalam hidupnya. Setiap hari ia menghabiskan waktu tidur di rumah tuannya yang bersih. Bermain dengan mainan yang disediakan khusus untuknya. Ia hanya keluar rumah di pagi hari jika ia sedang ingin menikmati sinar matahari sejenak. Ia begitu bangga dengan bulu bersihnya yang tampak berkilauan ditimpa cahaya.

Kemanjaan si Igor membuat dia sedikit berbeda dari kucing lain. Jika kucing jalanan sibuk di malam hari untuk berburu tikus atau hewan pengerat lainnya. Ia hanya seskali berjalan-jalan menikmati malam. Ia tak ingin jadi kotor karena harus berburu tikus. Toh, besok pagi tuannya akan menyediakan makan baginya.

Hingga suatu hari, kenyamanan hidup Igor harus berakhir. Sang tuan yang baik hati wafat. Sesaat ia tak merasa hal itu akan membuatnya menderita di kemudian hari. Namun beberapa hari kemudian, ia baru sadar.

Anak sang tuan ternyata tak menyukai kucing. Igor pun terlantar. Ia tak diberi makanan segar lagi. Kadang hanya nasi dari sisa-sisa makan mereka. Tentu saja Igor tak suka makanan begitu. Parahnya, lebih sering Igor dilupakan begitu saja, hingga berhari-hari ia tidak makan. Bila ia coba memelas di kaki anak-anak tuannya, ia malah diusir atau ditendang.

“Hus! Kucing sialan, gara-gara kamu ibu kami pergi,” begitu Igor mendengar Koko, anak tertua majikannya mengusirnya dari rumah itu.

Mau tak mau, akibat desakan rasa lapar, Igor pun harus pergi ke jalanan. Kadang ia mengais tong sampah untuk menemukan sisa-sisa makanan. Tapi seringkali sisa makanan itu tak enak atau tak mengenyangkan perutnya. Tak jarang pula ia jadi sakit perut karenanya.

Pernah Igor bertemu dengan teman-teman yang dicemoohnya dulu. Mereka semua kini tertawa melihatnya.

“Hey! Lihat kucing jelek yang sombong itu! Sekarang ia tak beda dari kita. Jorok, bulunya kusam, kurus lagi! Hahaha!” Mereka pun serentak tertawa dan meninggalkan Igor yang sedih bermuram durja. Ia kini menyesal pernah mengejek mereka.

Begitupun, ada juga yang kasihan padanya. Suatu hari si Blurik mengunjungi Igor dan melemparkan seekor ikan ke hadapannya. Igor sangat terkejut. Bingung.

“Makanlah, aku tahu kau lapar,” jelas si Blurik.

“Tapi…”

“Sudahlah, aku sudah melupakan masa lalu,” ungkap si Blurik.

Lalu ia mengajak Igor ke suatu tempat yang cukup jauh. Di tempat itu, amis ikan menyeruak. Memberi rasa nikmat di hidung Igor. Lalu matanya menjadi nyalang melihat tumpukan-tumpukan ikan di meja-meja yang padat. Orang lalu lalang di mana-mana. Tempat itu begitu ramai dengan manusia, tapi juga sangat penuh dengan ikan.

“Wow! Ini surga ikan!” serunya.

“Ya, tapi tempat ini juga berbahaya. Manusia menyebutnya pasar ikan,” ujar Blurik.

Lalu si Blurik pun mengajari Igor mencuri ikan dari para pedagang. Mereka harus cerdik, sebab kalau si pedagang sampai tahu ikannya dicuri, para kucing bisa dipukuli sampai berdarah.

“Paling parah adikku. Ia pernah disiram air panas, kasihan sekali. Kini bulunya tidak tumbuh lagi,” kenang Blurik sendu.

Berkat pertolongan Blurik, meski kini bulunya harus berbau amis, Igor cukup senang. Ia tak lagi kekurangan makanan. Sejak itu ia telah berubah menjadi kucing yang baik hati. Lalu banyak kucing yang kini mau berteman dengannya. Igor pun sadar bahwa kesombongan tak ada gunanya. *


Aksi

Information

One response

28 11 2007
dedi adityawarman

mas, aku pinjem dongengnya buat murid sd di tempat istriku ngajar.
Tadinya nyari dongeng yang temanya kurang-lebih “mencegah korupsi sejak usia dini”. Sayangnya sejauh ini blom ktmu yg pas. But thankyou anyway.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: