Di Tepian Ladang Jagung

14 12 2007

Oleh Oom Evin

ladang jagungDesa Maju Jaya, baru saja panen raya. Ratusan hektar ladang jagung yang terpisah-pisah tampak sudah dipangkas. Beberapa keranjang berisi sampah dedaunan yang mulai kering, berjejer di masing-masing petak ladang.

            Panen raya jagung adalah masa puncak ketika para petani jagung memetik hasil maksimal dari tanaman berumur 3 – 6 bulan itu. Karena panen raya kali ini cukup memuaskan, banyak petani yang berwajah riang dan mendapatkan hasil penjualan yang lumayan.

            Ke sana lah Eduardo Samboaga berlibur bersama keluarganya. Eduardo masih berumur 11 tahun dan Desa Maju Jaya adalah salah satu tempat favorit mereka untuk berlibur. Di desa kecil penghasil jagung dan palawija yang terhampar di kaki pegunungan Bukit Barisan itu, keluarganya memiliki beberapa belas hektar lahan dan sebuah villa di kaki bukit. Kakek buyut Eduardo sendiri adalah salah satu tokoh masyarakat yang dihormati, yang di jaman kolonial menjadi pejabat pamong praja keresidenan wilayah itu.

            Hampir sebulan sekali, ketika akhir pekan, Eduardo ikut ayahnya ke desa itu. Maka Eduardo tak asing lagi bagi warga desa. Ia pun sudah berteman dengan anak-anak desa.

            Hari itu, sabtu sore. Masih tiga jam lagi sebelum magrib. Eduardo melangkah menuju ladang jagung mereka. Beberapa pekerja di ladang ayahnya masih giat bekerja membersihkan sisa-sisa tungkul jagung. Ia menelusuri jalan setapak  yang ditutup kerikil halus menuju ke batas ladang mereka. Mengenakan sandal gunung, topi rimba, dan baju loreng tentara pemberian pamannya. Eduardo tampah gagah dan keren sekali.

            “Mau ke mana, Nak Edu?” Paman Agusta, pegawas ladang ayahnya menyapa ramah sambil menyeka keringat. 

            “Eh, mau keliling sebentar Paman!” Eduardo menyahut.

            “Oh, jangan jauh-jauh ya Nak Edu! Dan jauhi sungai…”

            “Lho, memangnya ada apa di sungai, Paman?” Eduardo menghentikan langkahnya.

            “Oh… air sungai sedang pasang dan arusnya sangat deras. Berbahaya berada di sungai di saat seperti itu!” jelas Paman Agusta.

            “Eh, baiklah Paman. Edu nggak ke sungai kok…”

            “Oh ya, Nak Edu…” seru Paman Agusta. “Tadi paman lihat ada anak-anak sedang bermain di tepian timur ladang!”

            “Ya, Paman. Edu ke sana aja deh!” Edu melanjutkan langkahnya.

            Setiba di ujung jalan setapak, ia berbelok ke timur. Dari kejauhan ia melihat asap putih tipis membumbung dari sudut ladang.

            “Wah, asap apa itu?” Edu bergegas ke arah asap tersebut. Sebelum tiba di sumbernya, ia mencium wangi daging bakar… “Hmmm, harum betul wanginya!” batinnya.

            Semakin dekat aroma daging itu semakin keras. Ia pun melihat tungku dan ternyata empat anak desa sudah berkerumun, teman-temannya.

            “Halo, Edu! Ayo sini!” ajak Hadi yang bertubuh subur. Anak yang lain menatapnya. “Ayo sini… ada pesta daging bakar, nih!”

            “Wah… wah… ini rupanya sumber wangi itu!” Edu tersenyum riang, bergabung dengan anak-anak yang lain.

            “Untung kamu cepat datang. Dagingnya udah hampir matang nih,” Tahar yang berkulit paling hitam menyapa sambil mengoleskan minyak kelapa ke atas potongan daging yang setengah matang di atas bara. Percikan minyak mempertebal asap dari bara, menguapkan aroma khas daging bakar.

            “Eh, apa yang kalian panggang ini?” Edu duduk di sebuah batu besar.

            “Aha… nggak usah ditanya dulu deh… Nanti cicipin sendiri!” Dedi yang bertubuh tinggi kurus senyum sekilas. “Wanginya sedap bukan?”

            “He-eh… aku jadi lapar,” jawab Edu sambil memandang daging yang dikerat kecil-kecil itu. Di tepi panggangan ada lima jagung yang juga sedang dipanggang.

            “Setiap panen raya… kami suka memanggang di sini, Du!” ujar Gazali yang kepalanya botak plontos.

            Mereka berbincang-bincang sampai matahari semakin condong ke barat.

            “Wah, dagingnya sudah matang, nih!” Tahar mengangkat keratan daging satu persatu ke atas daun pisang yang sudah disiapkan. “Jagungnya juga sudah!” 

            “Nah, sebagai kehormatan… Edu boleh makan duluan!” Gazali menyodorkan dua potong daging dengan snyum dikulum. Edu mengambil sepotong daging yang tampak gurih itu.

“Ayo santap Du!” yang lain menyemangatinya.

Edu menggigit daging yang masih hangat itu. Semua menatapnya. “Gimana rasanya?”

“Hmmm, enak…” Edu menghabiskan potongan daging tersebut. “Minta lagi dong! Belum pernah aku mencicip daging selezat ini!”

Yang lain berbisik sesamanya sambil menyodorkan potongan yang lain. Edu mengambilnya dan menyantap dengan nikmat. “Lho, kenapa kalian nggak makan?”

“Eh… iya Du…” sahut mereka. “Kamu yakin rasanya enak?”

“Enak kok… emangnya kenapa?” Edu berhenti makan, ia mulai curiga kenapa temannya belum juga menyantap daging panggang itu.

“Eh… kenapa sih kalian tak makan?” Edu semakin penasaran. “Sebenarnya daging apa yang kalian panggang ini?” Edu menyelidik.

“Jujur saja… itu daging ular!” Tahar menyahut.

Edu langsung kehilangan selera makannya. Perutnya tiba-tiba mual.

Anak-anak yang lain tertawa-tawa. Sambil menyantap daging tersebut sampai habis… “Kamu hebat deh, berani mencoba daging ular!”

Edu langsung muntah… temannya terus tertawa-tawa….

“Ha-ha-ha… gimana sih kamu Du, masa nggak bisa bedakan rasanya daging!” Dedi menepuk pundaknya, mengajak ke tumpukan keranjang daun yang mengering.

“Sebenarnya itu bukan daging ular, kok. Itu daging puyuh. Kami tadi berhasil menangkap dua ekor puyuh dari tepian ladang. Tuh, bulunya masih di sutu kok! Kami hanya bercanda menakutimu dengan olok-olok daging ular itu!”

Legalah hati Edu. Mereka semua tertawa riang…*


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: