Juned Iskandar: Otot, Otak, dan Nasib!

14 12 2007

Evin H Bakara

Otot, otak, dan nasib. Tiga hal itu yang diucapkan Juned Iskandar untuk menggambarkan seni merayap di tebing-tebing alam. Selaku seorang “penggila” rock climbing (panjat tebing), ia sudah merasa betapa otot yang terlatih, otak yang harus berpikir cepat dan sekian persen nasib sangat berpengaruh pada keberhasilan sebuah pemanjatan tebing.

Enam belas tahun yang lalu, Juned mengawali hobi bertualangnya. Saat ia masih duduk di kelas satu SMA Methodist 1 Medan. Anak ketiga dari lima bersaudara ini mendaftarkan diri mengikuti Diksar Gabungan Pencinta Alam (Gapala) di sekolahnya. “Aktifitas alam bebas itu seru, menantang dan penuh petualangan!” papar lelaki kelahiran 17 Juni 1974 ini.

Selama tiga tahun aktif di Gapala Methodist 1 Medan (1990-1993), Juned banyak belajar tentang pengetahuan dan keterampilan berkegiatan di alam bebas. Ia pun semakin sering menekuni hobi bertualang seperti mendaki gunung, jelajah hutan, dan berkemah.

Suatu pengalaman baru yang diperolehnya –yang kemudian membuatnya semakin eksis untuk menekuni hobinya— saat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) memperkenalkan olahraga wall climbing (panjat dinding) untuk prestasi di Sumut. Bertempat di pekarangan Istana Maimoon Medan, tahun 1992, kejuaraan daerah panjat tebing pertama di Sumut digelar. Saat itu Juned beserta puluhan petualang alam lainnya menjajal kemampuan mereka di tebing buatan. Walau tak memperoleh gelar juara, Juned memetik satu hikmah bahwa otot, otak, dan nasib sangat berperan dalam kegiatan seperti ini.

Tertantang untuk menguasai keterampilan panjat tebing, Juned semakin rajin mengasah kemampuan fisiknya. Ia berdisiplin keras pada dirinya dan bergabung dalam program latihan FPTI. Beberapa bulan kemudian ia sudah menguasai kemampuan dasar panjat tebing dan terpilih menjadi pengurus harian di Pengurus Daerah (Pengda) FPTI Sumut yang pertama tahun 1993-1997. Dari sinilah hobi panjat tebing menjadi pilihannya, dan tebing alam adalah spesialisasinya.

Selama kuliah di Trikarya Perbanas Medan, Juned –yang kini punya dua toko peralatan outdoor di Medan: Garvan dan Hanger– aktif di unit kegiatan mahasiswa Green Camp (sebuah organisasi kepencintaalaman). “Saat itulah aku semakin sering melakukan kegiatan rock climbing di tebing-tebing alam,” kenangnya dengan senyum terkembang.

Tercatat sudah belasan kali ia melakukan pemanjatan di tebing alam kawasan Bahorok, Sikulikap, Sumbul Sibolangit, Langkat, dan Sipiso-piso.

Tekadnya yang bulat untuk terus menekuni rock climbing disalurkannya dengan mengikuti kursus di Sekolah Panjat Tebing Skygers, Bandung, tahun 1997. Juned tercatat sebagai salah satu lulusan angkatan XII di Skygers, salah satu dari sedikit sekolah panjat tebing yang cukup bergengsi di Indonesia. Selama enam bulan magang di Skygers, Juned menambah “jam terbangnya” di tebing alam.

“Rekor pencapaian pertama yang paling berkesan adalah merayapi tebing Gunung Parang, Jawa Barat, setinggi 300-an meter. Sebelumnya aku tak pernah melakukan pemanjatan di ketinggian seperti itu. Rasanya sungguh luar biasa,” akunya penuh semangat.

Berturut-turut setelah itu ia pun menjajal tebing-tebing alam di Jawa Barat termasuk merayapi tebing Citatah yang kesohor.

Seiring kemampuan dan keterampilan panjat tebingnya yang semakin terasah dan mendekati tingkat climbing master, Juned kembali ke Medan dan “menularkan” keterampilannya pada anak-anak Medan. Ia kembali terpilih sebagai pengurus di Pengda FPTI Sumut periode (2000 – 2005), pada bidang tebing alam.

Panjat tebing bagi Juned memang tak sekadar hobi, ia selalu melatih fisiknya agar tetap fit, dan mengasah otaknya agar tetap cemerlang dengan selalu belajar dari alam dan pengalaman. Hampir disetiap kompetisi dan kejuaraan panjat tebing di Sumut ia pasti terlihat sibuk urus ini dan itu. “Kalau tidak terpilih sebagai pembuat jalur, biasanya jadi juri lintasan atau pelatih atlet,” ucapnya.

Penunjukan dirinya tentu saja karena keahlian dan kemampuannya, karena Juned adalah seorang spesialis. Keahliannya memang sudah terbukti, antara lain pernah membuka jalur panjat tebing alam di kawasan Asahan, Sumbul Sibolangit, dan Sampuran Harimau/Ponot yang dikenal cukup ekstrim dan garang.

Setelah berkali-kali memberikan kursus-kursus kilat pada peminat panjat tebing, ia menyadari bahwa animo penggemar panjat tebing di Medan cukup tinggi. Tahun 2003, bersama rekan-rekannya, Juned Iskandar membuka sekolah panjat tebing Hanger. Hingga kini Hanger telah “menetaskan” tiga angkatan berjumlah 105 orang. Tak tanggung-tanggung, Juned dan tiga rekannya dari Hanger bahkan sudah melakukan ekpedisi pemanjatan tebing ke Kelantan, MalaysiaThailand pada tahun 2004. Sebuah dedikasi yang patut dibanggakan dari para “penggila” tebing alam! *


Aksi

Information

4 responses

8 07 2008
dian

bang ned ni ical sehat bang sonot di sekret hanger?

2 04 2009
joko

Personnya terlalu menonjolkan yang ga pernah sampai pada puncak ketenaran ceritanya. Maaf Kenyang.hahahahaha

7 05 2009
alfan raykhan pane

sudah berapa banyak tebing curam yang kau daki? abangda…. salam kenal kembali

12 11 2009
mustaqim(si kecil)

asslm.
abangda,,,,,,
sehat ????
kirimi id or fb Hanger yah…
mus pengen tau kabar nih….
kangen euy,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: