Jurus Rahasia Jungle Trekking

14 12 2007

Evin Bakara

nge-trek    Salah satu kegiatan alam bebas yang berkaitan dengan ekowisata adalah jelajah hutan (jungle trekking). Namun jungle trekking di sini lebih ditekankan pada kegiatan yang berbau petualangan ke kawasan yang tidak umum dikunjungi.

Menjelajah hutan berarti memasuki suatu kawasan yang bukan teritori dominan manusia. Artinya kita memasuki daerah yang tidak biasa kita tinggali. Hutan sebagai teritori liar bagi banyak mahluk hidup lain (flora dan fauna), tidak boleh diperlakukan sembarangan.

Bagi mereka yang belum pernah menjelajah hutan pedalaman, suasana seram dan menakutkan akan cepat merasuk. Bahkan seorang penjelajah berpengalaman sekali pun tetap merasakan takut. Hal itu wajar mengingat kita tidak hidup sendiri di hutan. Untuk itu kita harus beradaptasi dengan cepat dengan lingkungan hutan sekitar. Beradaptasi tak lebih dari upaya membiasakan semua indera kita untuk menyesuaikan diri dengan karakteristik hutan.

Sebelum memulai pergerakan, lakukanlah pemanasan ringan seperti meregangkan otot, senam ringan, jalan/lari di tempat selama beberapa menit. Ini penting agar otot yang kelu dan kaku tidak ‘terkejut’. Saat pemanasan, otot akan lebih luwes dan ‘enak’ dibawa berjalan. Pemanasan ini juga merupakan bagian dari adaptasi terhadap medan jealajah.

Saat melakukan pergerakan di siang hari, kenalilah medan yang sudah kita lalui. Hapalkan tanda-tanda alam yang menonjol, tandai obyek-obyek yang paling mudah kita ingat dalam kepala (biasakan juga membuat catatan di notes). Dengan begitu otak kita secara otomatis akan menyusun data yang masuk dalam sebuah peta maya di memori. “Menghapal” tanda-tanda alam ini sangat berguna bagi kita agar tidak mudah tersesat. Mekanisme seperti ini juga terjadi secara alami pada bangsa primata saat menjelajah hutan, sehingga ia bisa menghapal letak pepohonan, terutama pepohonan berbuah yang menyimpan cadangan makanan.

Hutan akan lebih menyenangkan di saat hari terang (pagi sampai sore), dan akan menjadi ‘momok’ saat gelap menerjang (malam sampai subuh). Di hari terang, kita bisa memandang alam sekitar dengan leluasa, menikmati panorama, dan lebih mudah melakukan pergerakan. Sementara saat malam menjelang hutan sama sekali gelap dan dipenuhi alunan suara acak serangga-serangga malam.

Untuk wilayah hutan hujan tropis yang rapat dan gelap, disarankan untuk melakukan poergerakan hanya pada saat pagi hingga sore. Pergerakan di malam hari (walau pun) dengan bantuan penerangan lentera atau senter, akan sangat beresiko. Bahaya terbesarnya adalah tersesat dan kehilangan arah; atau terperosok ke lubang, jurang, dan ngarai; atau diserang ular, serangga, dan binatang melata yang terusik oleh gerakan kita.

Dalam junge trekking, pilihlah rute yang sudah ada. Dengan melewati rute itu kita menghindari kemungkinan tersesat dan lebih dimudahkan untuk pergerakan. Tetapi seandainya rute yang ada sudah tertutup, lakukan orientasi dan berjalanlah sesuai patokan azimuth yang ditentukan. Tebaslah seperlunya pada belukar yang menutup jalur dan jangan merusak lingkungan sekitar apalagi ‘menyiksa’ pepohonan dengan belati atau parang.

Mengambil rute sebaiknya yang landai dan tidak ekstrim. Hindari ‘potong kompas’ (mengambil jalan pintas) sebisa mungkin, karena rute yang ada biasanya dirintis dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan pergerakan. Walau agak berputar, tapi rute yang ada lebih menghemat tenaga, terutama di daerah yang agak curam.

Saat melakukan pergerakan, aturlah langkah dengan ritme yang tetap, jangan terlalu lambat dan jangan terlalu cepat. Mengatur ritme berarti menjaga agar langkah kaki stabil dan sejalan dengan alur pernafasan kita. Buatlah langkah-langkah kecil yang konstan, tidak tergesa-tegesa atau terlalu santai. Jika ritme langkah kita teratur pengeluaran tenaga akan lebih kecil, tidak mudah lelah, keseimbangan tubuh terjaga, dan lebih rileks.

Istirahatlah secara teratur selama pergerakan. Aturlah waktu istirahat selama 15 menit dalam setiap dua atau tiga jam pergerakan di medan datar. Sementara untuk medan jelajah mendaki, waktu istirahat 15 menit setiap pergerakan 45 menit atau satu jam sudah cukup. Namun saran ini bukanlah ‘harga mati’.

        Saat beristirahat, minumlah secukupnya dan jangan terlalu banyak. Jika perlu kunyahlah makanan ringan untuk menambah energi dan mengganti sebagian energi yang hilang dalam ‘pembakaran’ selama pergerakan. Tapi sekali lagi ingat, jangan ‘ngemil’ terlalu banyak. Makan dan minum berlebihan saat pergerakan bisa membuat kerja pencernaan lebih berat, efeknya akan menyebabkan sakit perut, pernafasan terganggu, dan rasa kantuk dan lelah menyerang. *


Aksi

Information

One response

19 11 2009
soegito penggemar

content useful – informatif – tulisan enak di baca
bravo evin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: