Kitty

14 12 2007

Oleh Oom Evin

Seharusnya Kitty bersyukur. Ia terlahir sebagai kucing yang berbulu indah, kemilau, lebat, dan belang tiga warna. Hampir semua kecantikan kucing melekat padanya. Namun Kitty selalu merasa belum puas, ia ingin lebih cantik dan lebih dan lebih cantik lagi…

anak kucing Kitty memang masih sangat muda. Usianya barulah enam bulan. Ia hidup di sebuah rumah mewah di kompleks perumahan di pinggir kota. Dipelihara seorang anak perempuan yang begitu menyanyanginya. Semua kebutuhan hidup Kitty terpenuhi. Ia punya tempat tidur istimewa berlapis kain satin yang lembut. Punya tempat makan porselin dan tempat minum keramik yang indah. Setiap hari ia mendapat makanan yang bersih, bergizi, dan berkecukupan.

Namun bagi Kitty, semua hal itu belum lah cukup. Ia ingin mendapatkan semua kesenangan dunia dan puja-puji. Maka setiap kali ia bertemu dengan kucing-kucing lain, ia akan selalu bertanya: “Siapakah kucing yang paling cantik di sini?”

“Tentu saja engkau Kitty!”

“Lalu siapakah kucing yang tercantik di dunia?”

“Oh, kami tidak tahu…!”

Mendengar jawaban seperti itu, Kitty pun merengut.

Kitty dari hari ke hari selalu ingin mempercantik dirinya. Kerjanya hanya bersolek, bersolek dan bersolek. Menjilati bulu-bulunya dan enggan berdekatan dengan kucing-kucing lainnya yang tak memberi jawaban memuaskan baginya. Ia sangat takut dianggap tidak cantik.

Kitty hanya keluar rumah ke taman depan rumah untuk berjemur di pagi dan sore hari. Menyombongkan dirinya pada kucing-kucing tetangga.

Suatu hari ketika ia sedang berjemuir di teras depan, ia mendengar sekelompok kucing liar saling berbisik antara sesamanya.

“Hei Legam, pernahkah kau melihat kucing penghuni rumah itu?”

Yang bernama Legam menoleh, “Kitty maksudmu?”

“Itukah namanya? Kucing yang berbulu tebal yang centil memuakkan itu?”

“Ya, aku rasa itu memang Kitty… ada apa dengannya?”

“Aku dengar ia suka mengurung diri dan bersembunyi sepanjang hari di rumah itu!”

“Ah, Kitty memang begitu… ia tidak pernah bergaul dengan kucing yang lain!”

“Itulah masalahnya, jikalau aku punya setengah saja dari kecantikan Kitty… aku akan sangat senang sekali. Apalagi jika aku bisa menikmati setengah saja dari kemewahan yang ia dapat, aku akan menjadi kucing yang sangat bahagia!”

“Tapi untukku, kecantikan bukanlah ukuran. Bagiku yang penting adalah bisa hidup bebas dan cukup makan sudahlah cukup!” Legam berkata.

“Maksudmu apa Legam?”

“Kecantikan hanyalah penampilan yang terlihat dari luar. Cantik tidak memberikan jaminan apa-apa kecuali pujian semata. Alangkah malangnya jika kita beruopa cantik, tetapi hati kita tidak pernah tenang dan bahagia…”

“Hmmm, untuk hal ini aku setuju denganmu, Legam!”

“Ah, betapa malangnya Kitty yang tak pernah puas dengan apa yang sudah ia dapat kini…”

Kitty mendengar semua percakapan itu. Ia berpikir dalam hati. Benarkah aku tidak bahagia? Ah, aku memiliki banyak hal yang tidak mereka dapat. Tetapi aku ingin menjadi kucing tercantik di dunia!

Begitulah Kitty, tidak juga menyadari bahwa karunia yang ada padanya sudahlah lebih dari cukup. Ia tidak pernah bersyukur atas semua anugerah yang diberikan Sang Pencipta padanya… Benarlah kata si Legam dan temannya, sungguh malang jika kita berpunya tetapi tidak merasa cukup. Padahal jika ia menyadari semua karunia itu, ia bisa menjadi kucing yang paling berbahagia di dunia walau tidak yang paling cantik!*


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: