Mengenal Rock Climbing

14 12 2007

© Evin H Bakara

       Climbing     Bagai seekor cicak, mereka menempel di gugusan cadas yang menjulang. Bulir-bulir peluh mengalir di otot-otot yang liat. Tangannya lincah merengkuh rekahan dan tonjolan bebatuan. Sabar, teliti, dan hati-hati, senti demi senti merayapi tebing hingga berakhir di puncak. Lalu bias kepuasan terbersit dari wajah mereka, para perayap cadas!

Panjat tebing (rock climbing) adalah satu dari sekian banyak alternatif kegiatan alam bebas. Berbeda dengan kegiatan petualangan alam lainnya, rock climbing dilakukan pada medan jelajah yang relatif ringkas. Wahana tebing alam atau gugusan cadas adalah medan petualangannya. Kemampuan si pemanjat (climber) untuk merayapi tebing-tebing ini bukan hanya tergantung pada daya tahan fisik dan keterampilannya, melainkan harus dipadukan dengan strategi dan teknik yang tepat.

            Pada dasarnya kegiatan panjat tebing ini adalah suatu teknik memanjat tebing batu dengan memanfaatkan cacat batuan berupa tonjolan, rekahan, atau cekungan dengan atau tanpa alat bantu pendakian. Karena itu pemilihan pegangan dan pijakan sangat menentukan keberhasilan sebuah pemanjatan. Keasyikan pemanjatan tebing justru ditemukan pada strategi menyiasati rupa tebing alam, karena itu pula yang menjadi faktor penentu keberhasilan pemanjatan. Salah strategi sedikit saja bisa merepotkan bahkan berakibat fatal!

Bukan perkara mudah untuk memahami jenis kegiatan yang satu ini. Awam mungkin berpikir, adalah pekerjaan “gila” memanjati tebing alam yang jelas-jelas beresiko tinggi. Tapi bagi para perayap cadas, tebing yang semakin sukar adalah tantangan yang harus dijawab. Tentunya harus bisa “ditaklukkan” dengan selamat.

            Awalnya rock climbing murni dilakukan di media tebing-tebing alam, namun pada perkembangan selanjutnya berangsur-angsur mulai dipopulerkan untuk umum. Karena itu mulai dipikirkan untuk melakukan kegiatan ini di tebing-tebing buatan, bahkan di dalam ruangan. Perkembangan berikut inilah yang disebut dengan wall climbing (panjat dinding) yang kemudian banyak diperlombakan…

            Awal tahun 1990-an, dinding-dinding panjat buatan sudah berdiri di Medan. Melihat animo yang cukup tinggi, akhirnya dikukuhkan Pengurus Daerah (Pengda) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Sumut tahun 1993. Kegiatan pertama Pengda FPTI Sumut ini adalah mengenalkan sekaligus menyosialisasikan kegiatan rock/wall climbing ke seluruh lapisan masyarakat dalam sebuah gelar Kejuaraan Daerah (Kejurda) Panjat Tebing Sumut.  Kejurda panjat tebing pertama di Sumut ini digelar di halaman depan Istana Maimoon yang memang menyedot cukup banyak peserta dan menarik perhatian ratusan pengunjung…ψ      


Aksi

Information

3 responses

4 03 2008
ardianzzz

halo salam kenal di rimba belantara indonesia….
saya dari Gitapala Fak. Tekn. Pertanian UGM.
bagi saya climbing adalah salah satu upaya pencarian Jati diri. karena hanya dengan keyakinanlah seseorang dapat melakukan apa yang disebut dengan rock climbing.! (begitu juga dengan caving, rafting, dan mounteneering) itu adalah sebuah jalan hidup untuk mencari pembenaran atas sebuah kebenaran dan pembebasan atas sebuah kebebasan… (<-berlebihan kayaknya)
smangatt!

21 03 2008
tigerbear

Salam Rimba, Bro!
Rock Climbing is funtastic lah! Aku juga bekas anak tebing tapi akhirnya kutemukan dunai lain di gurimba…

Keep Going on!

31 12 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: