Misteri Buah di Pekarangan

14 12 2007

Oom Evin

             Maiara  kaget. Sebuah sawo setengah busuk terpapar di pekarangan samping rumahnya. Pekarangan sempit yang hanya ditumbuhi rumput liar dan belukar merambat yang berbunga.

buah sawo matangIa melihat buah itu secara kebetulan. Sehabis mandi sore tadi, ia iseng memandang keluar jendela. Namun matanya  tertumbuk pada buah sawo yang tergeletak di pekarangan samping itu, persis di sebelah luar jendela kamarnya. Ia merasa tak pernah makan sawo dalam satu dua hari ini. Lalu dari mana datangnya buah itu?

Penasaran, Maiara bergegas ke luar. Tak lupa membawa kota alat penyelidiknya yang terdiri dari kaca pembesar, notes, pinsil, mistar pengukur, senter, benang, selotip, gunting kecil dan jangka. Ia ingin melihat lebih dekat buah berwarna cokelat muda yang berbau manis itu.

Ia asyik mengamati sawo itu. Serombogan semut sudah merubungnya. Menjalar liar di bekas pecahan, dan menggerogoti daging buah yang terbuka dengan biji hitam melonjong.

“Hmmm, ada bekas gigitan halus di sini,” desis Maiara sambil berjongkok di dekat sawo itu dan mengamati dari balik kaca pembesarnya. “Eh, ada bekas lubang halus di beberapa bagian…”

Maiara memang suka menyelidik. Gadis kecil usia 10 tahun itu  gemar melakukan penyelidikan, meneliti, dan menyukai kisah-kisah detektif dan misteri. Ia begitu teliti pada semua hal yang atau benda asing yang dianggapnya tidak pada tempatnya atau tidak lazim.

Semua pengetahuan dan daya kritis anak berambut ikal dan bermata bulat itu didapatnya dari buku-buku cerita detektif dan ensiklopedia anak yang gemar dibacanya.

Maiara selalu saja mencari sebab, musabab, dan mengapa sesuatu itu bisa berada di tempat yang tidak semestinya. Dari sini lah ia belajar memahami atau bahkan bsa mencari tahu mengapa semua itu bisa terjadi.

Pernah beberapa kali ia berhasil menemukan benda-benda yang hilang di rumahnya. Seperti sendok sayur ibu yang ternyata tersembunyi di balik rak piring, buku matematika kakaknya yang terselip di tumpukan koran, dan mencari kaca mata kakek yang salah letak di antara deretan bumbu dapur.    

Bakat Maiara untuk menyelidik dan meneliti mengundang decak kagum papa, mama, kakek, nenek, dan kakaknya. Bahkan bukan satu dua kali ia berhasil membantu teman-temannya mencari benda-benda kesayangan mereka yang hilang. Karena suak meneliti dan menyelidik, daya ingat dan logika berpikit Maiara terasah dengan tajam.

Seperti sore ini, ia berhadapan dengan kasus “buah sawo di pekarangan samping”. Ini merupakan sebuah misteri baginya. Bukan hanya sekali ini ia mendapati sisa buah di sekitar rumahnya. Jika Maiara tak salah hitung ada kira-kira empat kali dalam sebulan terakhir. Sawo ini adalah yang kelima. Sebelumnya ia pernah menemukan jambu biji, jambu air, mangga, dan belimbing. Ia berupaya keras memecah misteri munculnya buah-buahan ini dipekarangan rumahnya.

“Hey, apa yang kau lakukan di samping itu, Mai?” tegur Dara, kakaknya.

“Uh, kakak mengangetkan saja!” Maiara sedikit kaget. “Kak, aku menemukan buah lagi…”

“Lho, memangnya ada apa dengan buah itu?”

“Apa kakak merasa pernah makan sawo dalam dua tiga hari ini di rumah?”

Dara heran dengan pertanyaan itu, namun ia bisa memaklumi sifat selidik adiknya. “Perasaan nggak ada deh!”

“Atau mungkin  belimbing dalam sepekan terakhir?”

“Nggak ada tuh?”

“Atau coba kakak ingat-ingat apa ibu pernah membeli buah mangga, jambu biji, jambu air dalam sebulan ini?” Maiara mencecar kakaknya dengan pertanyaan.

“Gimana sih kamu Mai, kemarin dulu itu kan kamu udah nanya hal yang sama deh!”

“Jadi menurut kakak, bagaimana mungkin buah itu bisa ada di sekitar rumah kita?”

“Uh, mana kaka tahu! Mungkin ada orang yang membuangnya ke pekarangan kita!”

“Kemungkinan itu kecil sekali, Kak,” Maiara mencoret-coret notesnya. “Siapa sih yang iseng mau membuang buah yang matang dan ranum?”

“Ah, kamu ada-ada saja…”

Maiara kemudian berpikir-pikir. Ia memeriksa kembali notesnya. Jejak buah yang ditemukannya semau mengarah pada kesamaan yang kebetulan. Faktanya: buah itu memiliki bekas gigitan atau lubang kecil seperti cakar, buahnya dalam kondisi matang sempurna, keadaan buah ‘bonyok’ dan hampir hancur…  Fakta terakhir membuktikan  bahwa buah tersebut sepertinya bekas mengalami benturan keras lebih dari sekali.

“Hmmm, berdasarkan catatan waktunya, kemunculan buah itu dipekarangan persis sama dengan suara aneh di atap seng rumah! Tadi malam aku mendengar bunyi seng yang keras lalu sorenya aku melihat buah sawo ini sudah ada di sini. Peristiwanya persis seperti keempat buah yang lain!” batin Maiara. “Aku punya satu tersangka!”

Begitulah. Selama beberapa hari sejak penyelidikan “buah sawo di pekarangan samping”, Maiara meluangkan waktu di malam hari untuk menanti bunyi “Klotak… tak… tak… Plok!” di atap rumahnya.

Sampai pada suatu malam. Bunyi itu mengejutkannya. Walau sempat terdiam, Maiara segera menjalankan rencananya. Ia pun bergegas mengambil kotak peralatannya dan beranjak keluar kamar. Ia kaget saat mendengar suara kibasan dan desis dari langit yang hitam.

“Tuh, kan. Tersangkanya muncul!” ucap Maiara senang sambil terus menatap kelebat sosok hitam yang segera menghilang. “Besok aku mencari bukti baru… buah apa yang dijatuhkan kalong itu kali ini?”

            Sebuah misteri lagi berhasil diungkap Maiara!*


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: