Rakuna bin Andaliman

14 12 2007

Oleh Oom Evin

Rakuna bin Andaliman, bocah berdarah campuran Tajikistan, Banglades, dan Batak. Yatim piatu sejak balita dan kini diasuh pamannya Sutan Salim. Rakuna bin Andaliman punya sifat menyendiri dan sangat tertarik dengan sains. Ia cenderung lebih suka berpikir dan sibuk dengan aneka eksperimen yang disebutnya ilmiah.
Di kalangan bocah umur 10 tahun, Rakuna bin Andaliman memang amat berbeda. Manakala anak-anak lain suka bermain gundu, sepak bola, berlarian dan sesekali main PS, Rakuna lebih memilih membaca buku ensiklopedi sains atau membedah biji mangga atau merakit perangkat elektronik kit sederhana di kamarnya.
Seringkali pamannya geleng kepala dan bertanya, “Rakuna, apakah kau tak ingin bermain bersama teman-temanmu di luar sana?”
“Ah, paman. Aku punya eksperimen penting. Sesuatu yang akan berguna untuk peradaban manusia…” jawabnya.
“Paman tahu, nak,” ujar pamannya bijak. “Tetapi, ada baiknya sesekali kau ikut bermain dengan mereka… udara luar dan aktivitas berkelompok juga penting untuk peradaban!”
“Ya, nanti sajalah paman. Eksperimen ini tak bisa ditunda!”
Begitulah si Rakuna bin Andaliman. Selalu saja mengurung diri di kamar dengan berbagai “eksperimen pentingnya”.
Memang ada sederet hasil karya ilmiah Rakuna bin Andaliman yang cukup spektakuler dan mengejutkan pamannya. Ia pernah membuat alat penyiram kebun otomatis untuk kebun kecil pamannya. Ia juga pernah mencoba menciptakan varitas bunga hibrid dan aneka buah varitas unggul hasil persilangan dari bibit-bibit unggul. Dan yang paling mengesankan pamannya adalah ia pernah merancang kursi malas otomatis bertenaga baterai.
Bukan hanya itu ada juga alat-alat temuan Rakuna bin Andaliman lainnya yang tersimpan di gudang rumah pamannya. Sebagian ada yang termasuk barang-barang eksperimen gagal.
Waktu demi waktu bagi Rakuna bin Andaliman adalah kesempatan untuk memperdalam sains dan membuat berbagai kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Jika pagi hari ia bersekolah, maka siang dan sore hari adalah masa aktif untuk melakukan ekperimen atau membaca. Ia nyaris tak pernah keluar rumah untuk bermain bersama teman sebaya.
Maka jadilah Rakuna bin Andaliman dijuluki “Profesor Kuper” oleh teman-teman sekolah dan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Menanggapi julukan itu, Rakuna bin Andaliman hanya berkata lirih,” Mungkin aku memang jarang bergaul tetapi suatu saat kelak orang yang akan datang mencariku, karena semua temuanku!”
Mula pertama ia pindah ke rumah pamannya setahun yang lalu, anak-anak di lingkungan tersebut masih sering mengajaknya bermain di waktu senggang. Tetapi Rakuna bin Andaliman senantiasa menolak. Lambat laun anak-anak pun sudah enggan mengajaknya. Mereka kapok dan mencap Rakuna sebagai “anak sombong!”
Inilah yang mengkhawatirkan pamannya. Namun sang paman tak bisa berbuat banyak. Ia percaya suatu saat nanti Rakuna bin Andaliman akan menyadari bahwa ia butuh bersosialisasi dengan para tetangga dan lingkungannya. Namun untuk itu ia harus memikirkan cara terbaik untuk memancing Rakuna mau bergaul.
Suatu sore yang cerah. Sang paman mengahmpiri Rakuna yang sedang sibuk dengan rancang susun Lego-nya.
“Hai Rakuna, kali ini temuan apa yang kau buat?”
“Ah, hari ini sedang mandek, paman. Aku hanya mencoba ide-ide struktur bangun saja!” katanya.
“Eh, coba kau lihat di luar sana…,” ujar pamannya. “Di lapngan sana ada sekumpulan bocah yang mungkin membutuhkan ide-ide segarmu!”
“Uh, anak-anak itu tak pernah bisa menghargai karya ilmiah, Paman!” keluh Rakuna.
“Hei, jangan berkata begitu. Barangkali karena engkau ‘menawarkan’ ide yang tak sesuai dengan kebutuhan anak-anak itu! Coba pikirkan sesuatu yang mungkin bisa bermanfaat dan membuat mereka senang!”
“Apakah mesin-mesin canggih bisa membuat mereka senang, Paman?”
“Kita tak pernah tahu jika belum mencobanya…, pikirkanlah itu Nak!” pamannya berlalu.
Rakuna bin Andaliman tepekur di kamarnya. Ia memikirkan kata-kata pamannya. Apa yang bermanfaat dan membuat anak-anak itu senang ya? Ia pun bergerak menuju jendela. Menatap lapangan dari balik tirai, melihat sejumlah anak-anak yang bermain riang. Berkelompok-kelompok dengan keasyikan mereka sendiri. Ada yang beramin sepeda, sepatu roda, gundu, dan kuaci…
Rakuna bin Andaliman merasa sedikit iri dengan kegembiraan mereka. Semakin ia menatap keluar, ia semakin tertarik untuk bergabung dengan mereka. Namun ia segan karena ia tak punya sesuatu yang bisa membuat mereka senang nantinya. Ia berpikir keras.
“Ah, aku tahu!” ujarnya. “Aku akan menciptakan robot-robotan atau mainan untuk mereka! Kenapa tidak terpikirkan oplehku sebelumnya ya!” Ia pun segera mengemas beberapa peralatannya dan bergegas keluar rumah. Di ruang tenag hia berpapasan dengan pamannya.
“Hei, kenapa buru-buru Rakuna?”
“Paman, aku punya sesuatu untuk mereka! Usia kanak-kanak tentunya membutuhkan permainan yang menarik toh!” Rakuna berlari menuju lapangan mendapatkan teman-temannya.
Sutan Salim sedikit heran namun senang. Ia menuju teras depan dan memperhatikan Rakuna bin Andaliman dan kumpulan anak-anak yang merubungnya. Rakuna tampak sedang memperlihatkan robot-robotan rancangannya. Semua anak tampak senang karena boleh mencoba mainan canggih itu.
“Akhirnya, ia menemukan sesuatu yang berarti untuk rekan sebanyanya!”
Sejak itu Rakuna bin Andaliman sering bergaul dengan teman-temannya. Semua anak suka padanya, karena Rakuna selalu membawa barang temuan baru yang bisa mereka mainkan bersama. Rakuna tetap dengan semua eksperimennya, tetapi ia juga meluangkan waktu untuk bermain dan memperkenalkan teknologi dan sains pada anak-anak sebayanya. Bukankah itu perbuatan bermanfaat yang menyenangkan?*


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: