Rambot si Tupai Pemalas

14 12 2007

Oom Evin

tupai nyantap bebijian Kehidupan tupai-tupai pohon di belantara itu amatlah sibuk. Sepanjang hari sejak pagi sampai menjelang petang mereka belarian mengendus makanan. Semua jenis biji-bijian, kacang-kacangan, dan polong adalah favorit mereka. Hutan adalah gudang makanan yang terkadang melimpah, terutama di musim panas. Namun saat musim hujan tiba, makanan adalah sesuatu yang sulit didapat.

Membaca situasi alam, tupai-tupai pohon di hutan itu pun giat mencari makan saat musim panas sedang berlangsung. Paman Nutty, seekor tupai pohon yang terkenal paling giat, menjadi pemimpin gerombolan tupai di hutan itu. Ia selalu mengingatkan seluruh tupai-tupai yang lain untuk mengumpulkan makanan setiap hari.

“Ayo kawan-kawan. Ini sedang musim panas. Banyak-banyaklah mengumpulkan bebijian dan kacang-kacangan. Tentukan daerah perburuan masing-masing!” himbaunya setiap pagi pada seluruh warga tupai.

Lalu gerombolan tupai-tupai itu pun menyebar di seantero hutan. Mencari setiap biji buah yang sedap untuk disantap. Adalah kebiasaan tupai untuk mengumpulkan makanannya di dalam sarang-sarang mereka. Sarang-sarang ini dibangun di lubang-lubang pohon, di antara cabang dan batang pepohonan yang tinggi.

Selain sebagai tempat berteduh, sarang-sarang ini juga digunakan sebagai lumbung penyimpan makanan mereka. Satu tupai biasanya memiliki lebih dari satu sarang. Namun mereka tetap memfavoritkan sebuah lubang sebagai sarang utamanya.

Suatu siang, Paman Nutty sedang beristirahat di dekat lubang pohon yang ditempati tupai bernama Rambot. Rambot ini dikenal sebagai tupai yang paling pemalas di antara semua tupai yang dipimpin Paman Nutty. Seperti biasa, Rambot tampak masih meringkuk di dalam sarangnya yang hangat.

“Hey, Rambot. Bolehlah aku menumpang sebentar di cabang dekat sarangmu ini?” sapa Paman Nutty.

Rambot terbangun. “Oh, Paman Nutty. Silakan saja!”

“Terima kasih Rambot!”

“Ya, Paman,” Rambot menguap. “Aku ingin melanjutkan tidurku!”

“Eh, apakah kau sudah bekerja mengumpulkan makananmu, Rambot?” bertanya Paman Nutty.

“Ah, nanti saja Paman. Musim panaskan masih panjang, tak perlu terburu-buru,” sahutnya.

“Lho, apakah kamu memiliki persediaan makanan yang cukup di lumbungmu sehingga kau selalu menunda bekerja, Rambot?”

“Eh, tidak juga Paman Nutty. Tapi jika lapar, aku akan segera mencari sejumlah yang kubutuhkan.”

“Rambot. Tak selamanya makanan tersedia melimpah di hutan ini. Lihatlah warga tupai yang lain. Mereka selalu giat mengumpulkan makanan untuk masa paceklik. Kusarankan agar engkau segera bekerja… nanti jika musim hujan tiba, makanan akan sangat sulit didapat!” nasehat Paman Nutty.

“Ya…ya… ya. Terimakasih nasehatmu Paman Nutty!” Rambot melanjutkan tidurnya.

Paman Nutty pun hanya geleng kepala melihat tingkah si Rambot. “Dasar Rambot! Kau pasti menyesal kelak,” katanya pelan.

Begitulah. Banyak tupai-tupai lain yang selalu mengingatkan Rambot untuk segera bekerja mengumpulkan makanan. Namun Rambot tetap saja bermalas-malasan. Ia selalu menjawab: “Nanti sajalah!” atau “Besok sajalah!”

Waktu pun berlalu. Musim panas hampir berakhir. Tupai-tupai yang lain sudah memiliki cadangan makanan yang cukup untuk melalui musim hujan sampai pada musim panas berikutnya. Namun Rambot belum memiliki simpanan makanan sedikitpun di lumbungnya.

Ketika angin dingin mulai bertiup, Rambot segera sadar bahwa ia belum mengumpulkan persediaan makanannya. “Uh, angin dingin ini pertanda musim hujan akan segera tiba. Aku harus menacari makananku!” ia pun menggeliat-geliat dan keluar dari sarangnya.

Ia berlari, mengendus, dan melompat. Mencari bebijian dan kacangan-kacangan yang bisa ditemukan. Namun hingga hampir petang, Rambot hanya berhasil mendapat dua biji buah hutan. Itu pun yang setengah busuk.

“Waduh. Kemana semua bebijian dan kacang-kacangan itu, ya? Ah, besok mungkin lebih baik!” Ia segera pulang ke sarangnya.

Namun keesokan harinya, pencariannya juga sia-sia. Ia malah tidak mendapat makanan apa-apa. Sementara tupai-tupai yang lain sudah beristirahat di sarang mereka masing-masing. Menyantap makanan mereka yang sudah banyak terkumpul.

Dua hari kemudian musim hujan pun mendera. Rambot hanya berhasil mengumpulkan tak lebih dari 5 bebijian dan 4 kacang-kacangan serta sebiji polong. Ia begitu sedih dan muram. Bagaiamn ia bisa melalui musim hujan yang basah dengan sedikit makanan? Paling-paling hanya bertahan untuk stau minggu. Itupun dengan berhemat dan diet ketat.

Maka walau hujan mengguyur hutan. Rambot terus mencari makan. Tetapi mencari makan di musim penghujan adalah sebuah siksaan. Sangat sulit menemukan makanan! Selain itu seluruh tubuhnya basah dan ia kerap menggigil.

Rambot akhirnya jatuh sakit. Ia demam dan kelaparan. Barulah Rambot sadar bahwa nasehat Paman Nutty dan teman-teman tupai lainnya adalah benar. Mengapa ia selalu menunda waktu bekerja selagi makanan sedang berlimpah. Rambot kena batunya!

Untunglah warga tupai yang lain mau menjenguknya dan memberikan sedikit persediaan makanannya pada Rambot.

“Karena itulah Rambot. Aku dan warga lain selalu mengingatkanmu. Bekerjalah selagi kau masih bisa mengumpulkan makanan yang banyak. Jangan suka menunda-nunda apa yang bisa kau kerjakan hari ini!” nasehat Paman Nutty. “Kali ini kami berbaik hati memberikan sedikit makanan untukmu. Tetapi musim panas depan, kau harus mencari makananmu sendiri. Jika tidak kau tanggung sendiri risikonya!”

Malu juga hati Rambot. Ia pun berjanji di depan Paman Nutty dan teman-teman tupainya bahwa ia akan rajin bekerja mencari makan saat musim panas mendatang! Ia kapok menunda pekerjaan yang akhirnya membawa sengsara baginya.*


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: