Si Kunil

14 12 2007

Oleh Oom Evin

             Terlahir sebagai ulat mungil yang kecil, membuat si Kunil merasa kerdil. Ia baru saja menetas dari sebuah telur yang ukurannya juga kecil. Menghirup pertama kali udara alam raya yang teramat luas memang memberi kelegaan luar biasa padanya. Namun itu segera berakhir ketika ia menatap cangkang telurnya yang hanya sedikit lebih besar dari ujung kutil.

            Kupu-kupuWalau awalnya ia gembira, namun setelah melihat semesta di sekitarnya si Kunil jadi murung. Ia ternyata hanyalah hewan kerdil yang kalah jauh ukurannya dengan siput pemakan daun, atau belalang sangit yang berada tak jauh dari daun tempatnya menempel.   “Waduh, mengapa aku terlahir menjadi ulat yang kecil meringkil ya?” desahnya. Ia tak memahami mengapa ia terlahir sebagai hewan yang mungil.

            “Oh… Kunil. Kau kah itu?” sapa Si Walang Sangit.

            “Ya, paman. Apa paman tak melihatku sehingga harus bertanya begitu?” katanya cemberut

            Walang Sangit jadi salah tingkah. “Eh, jangan cemberut dong Kunil. Jangan salah paham kalau paman memang tak melihatmu dengan jelas…”

Walang sangit mencari kata yang tepat agar tak menyinggung perasaan si Kunil “…soalnya paman kan sudah tua, nak!”

“Ya… ya… aku mengerti paman. Aku hanyalah ulat mungil yang kerdil!”

“Eh, nggalk boleh sedih begitu dong Kunil,” Walang Sangit membesarkan hatinya. “Kamu kan memang baru menetas dari telur. Semua mahluk yang baru terlahir memang memiliki tubuh yang kecil. Itu wajar kok!”

“Ah, paman tak perlu menghiburku… aku tahu diri kok. Aku memang kerdil!”

            Walang Sangit hanya terdiam. Ia pura-pura tak mendengar dan melanjutkan makannya. Ia khawatir seandainya ia bicara lebih banyak, Kunil akan semakin tersinggung. Maka perlahan ia beranjak menjauh.

            Si Kunil kembali sendiri. Menatap tubuhnya di atas bias sejumput embun yang menempel di ujung daun. Ia mengamati bentuk tubuhny yang bulat kecil dengan warna coklat kehijauan yang buram.

            “Dan aku pun tidak terlihat cantik!” desahnya lagi dengan sedih.

            Maka, Si Kunil pun selalu menyembunyikan dirinya. Malu rasanya jika seisi hutan melihat tubuh mungil dan corak yang tak indah itu. Ia melampiaskan semua kesalnya dengan makan dan makan dedaunan muda.

            “Aku harus banyak makan agar cepat membesar!” tekadnya. “Jika perlu aku makan sampai perutku tak mampu lagi menampung makanan!”

            Maka jadilah si Kunil sebagai ulat kecil yang rakus. Dan Kunil tak merasa heran ketika hari demi hari nafsu makannya semakin besar. Rasanya setiap waktu ia ingin makan. Mengunyah dedaunan hijau yang begitu lezat baginya. Lambat laun, tubuh Kunil semakin gendut dan tambun. Gerakannya pun semakin lambat. Ini membuatnya takl selincah kemarin, namun ia tak peduli.

“Hei, Kunil … kamu makin tambun saja ya!” seru Siput Daun.

“Habis gimana dong Oom Siput. Selama ini tubuhku terlalu kecil… sementara aku ingin terlihat besar seperti hewan-hewan lainnya!” sahut Kunil sedikit murung.

“Ho ho ho, apa kamu nggak pernah tahu jika hewan yang baru lahir memang umumnya bertubuh lebih kecil dari induknya?” Siput Daun menasehatinya.

“Ya, kemarin dulu, Paman Walang Sangit sudah mengatakannya….”

“Lantas mengapa kamu harus murung dan menyembunyikan diri selama ini?”

Si Kunil terdiam sesaat. “Aku ingin cepat besar dan bertubuh indah, Oom Siput!”

“Ya… ya… ya… dengan nafsu makanmu yang kuat seperti sekarang ini, kamu mungkin akan segera menjadi kupu-kupu yang gendut!”

“Kupu-kupu?” Si Kunil mendelik heran. “Apa maksdu Oom Siput menyebutku menjadi kupu-kupu?”

“Ya, jika tubuh ulatmu sudah cukup umur, kau akan menjadi kupu-kupu!” tegas Siput Daun.

“Aku belum mengerti?”

“Wah, kamu tidak tahu ya!” Siput Daun heran juga. “Itulah akibatnya kamu nggak pernah bergaul dengan sesama serangga dan penghuni hutan yang lain!”

“Tolong jelaskan dong Oom. Aku memang belum mengerti!” pinta si Kunil.

“Kunil, Kunil. Kamu itu kan memang dilahirkan sebagai kupu-kupu. Sudah menjadi kodratmu menjadi serangag indah itu. Awalnya telur, lalu ulat, kemudian kepompong, dan abrakadabra…. kupu-kupu!”

“Maksud Oom, aku harus menjalani fase-fase itu barulah menjadi kupu-kupu?” nada suara Si Kunil mulai riang. “Benarkah?”

“Ya, begitulah!”

Perasaan Si Kunil campur aduk, antara senang dan bingung. Ia memang sering mendambakan menjadi seekor kupu-kupu bercorak indah. Jika benar ucapan Oom Siput Daun, alangkah senang hatinya.

“Kapan aku akan menjadi kupu-kupu, Oom?”

“OI, bersabarlah. Semua ada waktunya, Kunil,” Siput Daun kembali menasehatinya. “Biasakan dirimu untuk bersabar. Nikmati sajalah masa mudamu. Jangan sering berharap agar semua segera terjadi dengan mudah. Jika engkau bersabar dan percaya pada dirimu, tak lama lagi engkau akan menjadi kupu-kupu yang indah!”

Sejak itu si Kunil tak lagi bersedih. Ia senang saja makan sebanyak-banyaknya dan mau saja bergaul dengan penghuni hutan lainnya. Benar saja, tak lama kemudian tubuh Si Kunil tumbuh semakin besar menjadi ulat gemuk. Secara naluriah ia kemudian meringkuk diam di balik lengkungan sehelai daun. Di situ ia membungkus dirinya. Menutup erat tubuhnya menjadi kepompong.

Beberapa waktu kemudian, dari kepompong itu keluarlah seekor kupu-kupu kuning bercorak indah. Si Kunil kini telah dewasa… ia menjadi kupu-kupu yang cantik.*


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: