Si Mungil Titang

14 12 2007

Oom Evin

            Titang namanya. Bocah cantik nan mungil ini baru berusia 7 tahun. Namun ia sangat hiperaktif dan seringkali merepotkan mama dan papanya. Bukan saja karena ia senantiasa lepas dari pengawasan tetapi juga karena Titang suka menyembunyikan rahasia dari orang-orang dewasa.

            Pada dasarnya, Titang adalah anak yang cerdas. Hanya saja tingkah lakunya yang selalu aktif terkadang  membuat kedua orangtuanya, guru, dan kakaknya kelabakan. Titang tak pernah mau berdiam diri. Ada saja yang dikerjakannya. Keaktifannya juga cenderung ekstrem dan melebihi kemampuan bergerak anak-anak seusianya.

            Pernah mama kebingungan mencari Titang. Eh, ternyata ia asyik makan jambu di atas pohon di kebun belakang rumahnya. Atau papa yang kelabakan mencari obeng, ternyata sedang dipakai Titang untuk membongkar mainannya di dekat gudang. Wah!

            Saat bermain di antara teman sebaya, Titang adalah anak yang paling aktif. Energinya yang luar biasa berlebih terkadang membuat teman-temannya menyerah kalah bermain dengannya. Titang selalu unggul dalam permaiann ketangkasan, dan kala teman yang lain sudah kelelahan ia masih juga bisa berlari ke sana ke mari.

            Walau sering tersenyum dan tertawa lepas, Titang sebenarnya anak yang tertutup. Ia jarang berbicara kalau tidak perlu benar. Tetapi saat tenggelam dalam permainan, ia bisa menjadi anak yang paling komunikatif dalam segala fantasi dan imajinasinya. Papa dan mama sering geleng kepala memperhatikan tingkah putri bungsu mereka.

            Namun ada yang aneh pada Titang satu hari terakhir. Berbeda dengan hari-hari yang lain, hari ini Titang tampak enggan bermain. Sejak sepulang dari sekolah, ia langsung mengurung diri di kamarnya. Mama khawatir juga melihat perubahan putrinya.

            “Eh, Titang. Tumben kamu betah di kamar hari ini…” sapa mama di ambang pintu.

            “Titang lagi malas main, Ma…” jawab Titang lirih sambil menarik sarung menutupi kedua kakinya.

            “Kamu sakit ya?” Mama beranjak mendekat.

            Titang menggeleng pelan sambil memiringkan tubuhnya. 

            Mama duduk di tepi tempat tidurnya. Mengulurkan tangan hendak meraba keningnya. Namun Titang dengan cepat menepis tangan mama.

            “Titang nggak apa-apa kok ma!” katanya sambil menghindar.

            “Eh, mama lihat kamu begitu murung hari ini,” mama berkata lembut. “Kamu bertengkar dengan teman ya?”

            Titang hanya menggeleng.

            “Ya, sudah. Istirahatlah…” Mama berlalu dari kamar. Namun dalam hati mama heran juga, kenapa anaknya muram hari ini?

            Sepanjang siang sampai sore, Titang tak keluar kamar. Mama semakin khawatir. Biasanya, Titang tak pernah berdiam diri begitu lama.

            “Pa, mama lihat Titang tak bersemangat hari ini,” adu mama.

            “Nggak bersemangat gimana sih, Ma?”

            “Dari tadi sepulang sekolah ia hanya mengurung diri di kamar saja.”

            “Ah, sesekali kan ia juga mau begitu,” balas Papa sambil menyeruput kopi panasnya.

            “Tapi Pa, nggak pernah sampai setengah harian begini,” sahut mama khawatir. “Biasanya juga satu dua jam saja… itu pun karena ia kelelahan atau tertidur. Tapi kali ini wajahnya tampaknya muram seperti kehilangan semangat gitu lho Pa!”

            “Lho, kok begitu? Mama sudah periksa suhu tubuhnya?” Papa mulai serius.

            “Tadinya mama mau periksa… tapi ia bilang ia tak apa-apa… Mama pikir juga paling-paling Titang hanya kelelahan saja!”

            “Wah, harus kita periksa ma! Sekarang ini sedang musim demam berdarah dan diare lho? Barangkali ia sakit!”

            Mama dan Papa nergegas menuju kamar Titang. Mereka melihat Titang sedang rebahan. Butir keringat terlihat di keningnya. Wajahnya tampak sedang menahan sakit. Mama segera meraba keningnya.

            “Aduh, kamu demam Titang. Kok, nggak beri tahu Mama?”

            Titang membuka matanya, tampak sayu. “Tadinya Titang merasa sehat saja kok, Ma. Tapi sekarang Titang merasa agak demam ya?”

            “Lho… kok begitu?”

            “Habisnya tadi Titang memang sehat saja, kok… hanya sedikit…” Titang tak melanjutkan kalimatnya.

            “Sedikit apa, Nak?” tanya Papa.

            “Hanya… sedikit sakit di lutut…” lanjut Titang.

            Mama segera menarik sarung yang menutup kaki Titang. Di lutut Titang terlihat luka lecet kecil yang tampak memerah.

“Eh, lututmu terluka tuh. Kok nggak bilang biar diobatin?”

“Titang takut nanti dimarahin Mama sama Papa kalau Titang bilangin…”

            “Eh, kenapa mama dan papa harus marah sih? Namanya orang sakit kan bukan karena dibuat!” jelas Papa.

            “Nah, justru itu, Pa…,” Titang ragu.

            “Justru gimana maksudmu, Nak?”

            “Papa dan mama janji nggak marah?”

            Papa dan Mama mengangguk cepat.

            “Di sekolah tadi Titang main petak umpet. Tapi karena begitu bersemangat Titang jadi kurang awas. Titang tergelincir saat berlari mencari tempat persembunyian… jadinya lutut Titang luka lecet deh…” jelas Titang.

            “Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, Nak?”

            “Habisnya, Titang pikir Titang terjatuh karena kesalahan Titang sendiri karena kurang hati-hati. Papa dan mama sering bilang: ‘Titang, kalau  main hati-hati ya!’ jadinya Titang takut kalau dibilang nanti papa dan mama marah. Trus, Titang pikir luka lecet kecil gitu nggak apa-apa, ntar sembuh sendiri. Tapi kok sekarang badan Titang panas dingin ya?”

            “Walah, namanya luka sekecil apapun harus segera diobati, Nak. Luka bisa infeksi lho, dan kalau sudah begitu bisa saja kita merasa demam. Makanya kalau ada luka itu harus segera dibersihkan dan diobati. Lain kali kalau ada apa-apa, Titang harus langsung bilang ke Mama atau Papa ya…”

            “Nah, sekarang biar Mama obatin!”


Aksi

Information

2 responses

22 02 2009
imoet gtcu

Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh Ooooom Eviiiiiiiiiiiiiiin Gilaaaaaaaaaaaaaaaa.

Kamu ngarang cerita apa tuh. Ku tuntut ntar pencemaran nama baik loh. Awas ya!

12 07 2009
TITANG YUNITA

Sialan, …………………… aku dipadakne karu macan ,,,,,,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: