Rangkong “Si Paruh Tanduk”

21 12 2007

Evin Bakara

Masih terbayang pertemuan pertama dengannya saat usiaku masih empat tahun. Ia terbang melayang di tepian hutan Muara Uya, Kalimantan Selatan, dekat kebun milik kakek. Burung itu terbang rendah mengeluarkan suara parau dan kepakan sayap yang terdengar ke telinga mungilku.

hornbillDua puluh tahun kemudian, pertemuan itu ternyata kembali terulang di tempat lain. Kepakan sayap dan suara parau membimbing mata untuk menatapnya ke atas langit. Pertemuan itu terjadi beberapa kali di hutan pedalaman Sumatera wilayah Sibolangit, Langkat, dan Bukum. Saat aku masih suka mengangkat ransel ke kawasan hutan tropis yang jarang diinjak orang.

Sejak kecil, penampakan burung itu membekas dalam ingatan. Di tempat kelahiranku sebuah desa mungil di tepian Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, gadis-gadis Dayak menggunakan bulu-bulunya yang berpola hitam putih sebagai kostum dalam tarian tradisional.

Burung itu dikenal sebagai Rangkong, Enggang, Julang atau Hornbill. Burung besar yang rata-rata tubuhnya dua kali lipat ukuran ayam jago. Ciri utamanya adalah sebuah paruh keras, lebar, dan besar, namun ringan. Paruh sedikit melengkung ke bawah yang mencitrakan namanya hornbill alias si “Paruh Tanduk”.

Burung “Raksasa”

Dalam klasifikasi ilmiah, Rangkong (begitu saja kita sebut), merupakan sekelompok burung berparuh tanduk yang masuk dalam keluarga Bucerotidae. Ada sekitar 57 spesies dalam keluarga burung ini yang 10 di antaranya endemik Afrika, sebagian lagi endemik Asia, dan sisanya tersebar di wilayah lain.

Rangkong, walau sudah semakin sedikit jumlahnya, masih bisa ditemui di alam liar kawasan hutan tropis dan hutan sub tropis dunia. Pola warna bulu-bulunya biasanya varian hitam dan coklat tua. Itu pun masih dihias pola lurik atau garis putih, kuning, atau krem pada bulu di area tubuh bawah, sayap, dan ekor. Sementara paruhnya punya ragam warna yang lebih kaya. Ada kuning cerah, putih kotor, kelabu, coklat, merah, hitam, dan krem.

Bentuk paruh burung ini juga beragam. Ada yang tirus kecil, melebar pendek, membesar lebar, bahkan ada yang memiliki “cula” tambahan di atas kepala atau sampai ke 1/3 pangkal paruh atas. Namun penandanya adalah paruh berbahan mirip tanduk yang cukup mencolok dalam berbagai bentuk dan ukuran dibanding burung-burung lainnya.

Rangkong, memang termasuk raksasanya burung yang bisa terbang. Dalam identifikasi ukuran, rata-rata panjang tubuhnya antara 60 – 160 cm. Walau besar, rangkong punya bobot tubuh yang ringan antara 100 gram – 8 kg. Sebagai contoh, Black Dwarf Hornbill (Tockus hartlaubi) hanya seberat 102 grams dan panjang 30 cm; sementara spesies lain Southern Ground-hornbill (Bucorvus leadbeateri) berbobot 6,2 kg dan panjang 1,2 m. Namun ada juga spesies yang melebihi ukuran rata-rata ini. Dan sedikit di antaranya menjadi burung yang suka berada di tanah ketimbang terbang.


Rangkong Papan

Rangkong yang terbesar di sebaran Asia diidentifikasi sebagai Rangkong Papan (Buceros bicornis). Dalam literatur ensiklopedia dan wikipedia, burung Rangkong Papan dewasa berukuran sangat besar, dengan panjang mencapai 160cm. Bulunya berwarna hitam, dan cula kuning-hitam di atas paruh besar berwarna kuning. Kulit mukanya berwarna hitam dengan bulu leher berwarna kuning kecoklatan. Bulu ekor berwarna putih dengan garis hitam tebal di tengah. Sementara yang betina berukuran lebih kecil.

Jantan dan betina dapat dibedakan dengan mudah dari matanya. Mata burung betina berwarna biru, sedangkan burung jantan bermata merah.

Populasi Rangkong Papan tersebar di hutan tropis India, RRC, Indochina, Nepal, Bhutan, Semenanjung Malaysia, dan Sumatera.


Omnivora

Rankong bukanlah burung “vegetarian” (herbivora). Ia suka menyantap berbagai menu. Dalam daftar makanan hariannya terdiri dari aneka buah, serangga, reptil dan hewan-hewan mungil.

Walau bukan pemburu jempolan, Rangkong cukup mahir mengejar mangsanya. Buah memang favorit, namun daging ular, kadal, bahkan hewan pengerat akan dilahap jika sedang beruntung.

Ada satu yang unik dalam “pertempuran” Rangkong dengan ular. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat memangsa ular berbisa, Rangkong cukup hati-hati. Kemampuan memangsa ini dikembangkannya menjadi teknik makan yang unik. Saat mematuk ular berbisa, ia menempatkan kepala ular di dekat ujug paruhnya. Ini untuk menjauhkan patukan ular ke kepala atau bagian tubuh lainnya. Setelah menempatkan mangsa sedemikian rupa, ia akan mulai melakukan putaran paruh agar bagian atas ular berada di bawah (terbalik). Lantas dengan perhitungan dan kehati-hatian, ia mematuki kepala dan tubuh ular sampai hancur. Dan daging segar pun segera dilahap.


Perilaku Unik

Rangkong suka bersarang di lubang-lubang pohon besar. Namun berbeda dengan kebanyakan burung lainnya, dalam masa mengerami, betina akan mengurung diri selama masa mengerami. Dan jantan akan setia melayani istrinya, karena rangkong dikenal sebagai burung yang setia pada pasangan (monogami).

Saat musim bertelur, betina akan bertelur di lubang-lubang pohon sebagai sarang. Biasanya ia akan menempatkan 1 – 5 telur dalam satu kali musim bertelur. Setelah semua telur ditempatkan sedemikian rupa, maka betina akan menutup lubang pohon dengan lumpur dan meterial lain. Ia kemudian mengurung diri di lubang gelap yang sempit sambil mengerami telurnya. Jantan akan membantu menutup lubang dengan membiarkan sedikit celah sempit. Celah ini digunakan jantan untuk menyuplai makanan bagi betinanya.

Pada beberapa spesiesnya, “beton” penutup lubang akan dibiarkan tertutup selama 100 hari. Setelah masa mengerami selesai dan anakan rangkong telah lahir, betina bersama bayi-bayinya akan memecah tembok pelindung itu dan terbang keluar.

Karena sistem perlindungan seperti ini, sarang-sarang Rangkong cenderung terlindungi dari kemungkinan serangan predator dan hewan “pemburu” telur.

Rangkong memang burung yang istimewa. Tercatat sebagai keturunan burung yang hidup sejak ribuan tahun lalu. Sejak lama Rangkong memang sudah menjadi salah satu burung yang “dipuja” dibanyak kebudayaan kuno, termasuk suku Dayak di Kalimantan. Rangkong pada beberapa kebudayaan kuno menjadi bagian ritual religi yang melambangkan kebebasan, kesucian dan loyalitas. Kini ia termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi karena terancam punah. (berbagai sumber)*


Aksi

Information

4 responses

9 02 2008
B@rRa CauR

wuiihhhhhhhhhhhhhhhhhh………!!!Sip lahhhhhhh!
ditempat kami juga masih ada beberapa ekor Buceroidae (Julang mas) uhhhhhhhhhhhhhhhhh……..emang kepakan sayapnya bikin telingga uhhhhhhhhhhhhhhh

10 06 2009
firman

bsa minta daftar nama burung dan hewan lainya gak dengan nama latin dan tempat hidupnya

10 06 2009
tigerbear

wah…keren juga tempat kerja bung Caur….
Untuk bung firman, kita bisa bikin listing namanya atau silakan searching aja di web birdlife…

12 11 2009
ayu

makasih banyak kakak atas info burung rangkongnya . keren babget isinya . lengkap . jadi tugasnya cepet selese d .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: