Parfum Firaun Hatshepsut, Misteri Wewangian Berusia 3.500 tahun

25 03 2009

Imej sang ratu Hatshepsut.

Imej sang ratu Hatshepsut.

Perempuan boleh saja memegang kekuasaan seperti seorang lelaki, tetapi bagi ratu Mesir Hatshepsut wewangian dan kekuasaan adalah dua bagian yang berimbang dalam masa pemerintahannya.

Dunia mungkin akan bisa mengendus wangi seorang ratu kuno, manakala penelitian terhadap parfum yang pernah digunakan Hatshepsut, firaun perempuan sangat perkasa yang memerintah Mesir kuno selama 20 tahun sejak 1479 Sebelum Masehi (SM) – 1957 SM, selesai dilakukan.

Tim periset dari Bonn University Egyptian Museum di Jerman telah menganalisis satu kendi logam milik sang ratu terkenal itu dan menemukan residu yang diduga kuat sebagai sisa parfum yang digunakannya. Langkah berikutnya dari penelitian ini adalah mencoba merekonstruksi aroma yang sangat mirip dengan bahan kemenyan impor langka kualitas istimewa dari wilayah Somalia modern.

Jika upaya para peneliti ini berhasil maka ini menjadi peristiwa pertama kalinya parfum masa firaun dicipta-ulang.

Hatshepsut naik tahta Firauan Mesir, yang jarang dipegang seorang wanita, kala saudara tiri yang juga suaminya, Firaun Thutmose II meninggal dunia tanpa keturunan lelaki. Ia memegang tampuk pimpinan sebagai penjabat sementara sampai putra tirinya Thutmose III cukup dewasa. Namun selama masa yang singkat itu, ia berhasil menjadi pemimpin yang amat hebat melebihi firaun lelaki lain, sampai akhir hayatnya pada 1457 SM.

Meskipun hanya perempuan, Hatshepsut selama dua dekade menjadi satu firauan paling berhasil. Ia memerintah layaknya lelaki , bahkan pernah memimpin setidaknya satu kali gerakan kampanye militer. Tetapi selama kepemimpinannya, walau terjadi sejumlah perang sporadis, Mesir tetap dalam keadaan aman dan tenteram. Di masanya juga berlangsung sejumlah proyek pembangunan yang amat impresif. Dalam sejarah Mesir kuno, Hetsheput juga amat berjasa dan dikenal luas sebagai firaun yang membuka rute dagang wilayah selatan yang diwarnai pertempuran, tetapi ia berhasil juga mengamankan rute dagang itu sehingga menambah kemakmuran kerajaannya.

Ia juga dikenal sangat berani dan prestisius dengan meluncurkan satu ekspedisi caravan maritim ke daratan kuno Punt –sekarang daratan ini disebut sebagai Tanduk Afrika (Horn of Africa)- dan kapal itu kembali dengan rempah-rempah langka berikut tetumbuhan wewangian yang kemudian ditanam ulang di dekat kuil pemujaannya (berdasarkan dokumen kuno, bangunan ini masih dalam konstruksi sebelum kematiannya).

“Kemenyan wangi amatlah berharga di masa Mesir Kuno dan digunakan hanya untuk kuil-kuil dan raja-raja,” ujar Michael Hoveler-Muller, kurator di Bonn University Egyptian Museum.

Kemenyan ini yang dicurigai para peneliti telah mereka temukan di dalam sebuah wadah khusus dengan rajah nama sang ratu. Menggunakan teknik sinar X yang amat kuat, sisa-sisa cairan yang telah mengering akhirnya bisa ditemukan di dasar wadah tersebut. Farmakologi kini tengah menganailis residu itu dan mencoba membuat ulang parfum tersebut persis seperti aslinya, untuk mengetahui aroma wewangian yang pernah dipakai Hatshepsut sekitar 3.500 tahun lalu.

“Aku ingin melihat residu parfum itu, karena aku punya petunjuk bagus –bentuk botol itu sangat menyerupai botol parfum asli yang masih tertutup,” kata Hoveler-Muller kepada LiveScience yang dikutip dari yahoonews, Selasa malam.

Penggunaan parfum adalah biasa bagi kaum perempuan bangsawan kelas atas Mesir, namun sang ratu ini punya parfum istimewa dari campuran bahan tumbuhan yang teramat langka (di masa itu).

“Parfum (pada masa Mesir kuno senantiasa berupa minyak) diproduksi khusus hanya untuk golongan masyarakat kelas atas. Orang Mesir menggunakan bunga-bunga lokal, buah-buahan dan kayu aromatik sebagai bahan dasar wewangiannya (bahan wangi itu dicampur dengan minyak khusus tak berbau, sehingga menjadi parfum wangi berupa minyak),” detail Hoveler-Muller.

Kecintaan Hatshepsut pada wewangian agaknya setara dengan hasratnya dalam proyek kekuasan, sebuah sentuhan kehalusan dalam tangan firaun perempuan terhebat dalam sejarah Mesir. Selama ini banyak lukisan dan patung Hatshepsut yang memperlihatkan imej kejantanannya dengan berpakaian seperti lelaki sejati, memberi gambaran kasar pada aspek kewanitaannya. Namun dengan ditemukannya parfum mahal miliknya yang biasanya hanya digunakan para dewa dan raja besar, tentu akan memberi nuansa lain pada imej sang ratu.

Ratu Hatsheput menjadi berita besar pada tahun 2007, kala jasadnya yang dimumi berhasil diidentifikasi para ahli Mesir dengan menggunakan uji DNA dan dental X-rays. Membuatnya menjadi firauan kedua yang jasadnya teridentifikasi dalam keluarga kerajaan Mesir kuno setelah King Tutankhamen (Tut) pada 1922.* (livescience/yahoonews/evin)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: