Serangan “Bersenjata” Terencana Seekor Simpanse

25 03 2009

Santino the Chimp

Santino the Chimp

Sebuah insiden unik yang mengejutkan terjadi di taman hewan Furuvik Zoo, Swedia. Seekor simpanse melakukan perencanaan terselubung dan menyerang para pengunjung dengan lemparan batu bertubi-tubi. Ini membuktikan bahwa simpanse bisa melakukan tahapan perencanaan seperti juga manusia!


Para peneliti Swedia dikejutkan dengan peristiwa tersebut. Sang simpanse melakukan tindakan ini dengan sangat hati-hati dan terencana. Adalah Santino, seekor simpanse yang memang memiliki perilaku anti-sosial terhadap para pengunjung dan perawatnya di taman hewan itu. Simpanse jantan usia 31 tahun tersebut mengawali aksinya dengan mengumpulkan bebatuan dan pecahan tembok yang menahannya, sejak pagi buta. Ia menunggu hingga hampir tengah hari sebelum akhirnya secara mendadak melakukan lemparan terarah berkali-kali terhadap para pengunjung yang menghampiri kandangnya.

Sesuai laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology yang dilansir AP dan yahoonews, Senin, perilaku perencanaan ini memperlihatkan bahwa bangsa kera ternyata bisa melakukan tindakan yang cukup kompleks. “Ini mengimplikasikan bahwa mereka (simpanse) punya tingkat kesadaran tinggi, termasuk simulasi mental pada kejadian potensial,” kata Mathias Osvath, peneliti dari Lund University, yang menuliskan laporan tersebut.

Temuan Osvath berdasarkan pada studi observasi dan wawancara terhadap tiga perawat senior Santino, yang telah bersama hewan tersebut selama 10 tahun di taman hewan Furuvik.

Agaknya, dengan kenyamanan posisinya sebagai pemimpin, Santino tidak melakukan serangan terhadap sesama simpanse. Serangan yang dilakukannya memang langsung diarahkan pada manusia yang kerap mengunjungi teritorinya di area taman hewan yang berjarak 150 km utara Stockholm itu.

Begitupun, menurut Osvath, Santino terhitung sangat jarang melakukan serangan biasa terhadap pengunjung. Selama ini tak ada seoorang pun yang mengalami luka serius terhadap aksi penyerangan yang pernah dilakukannya.

Tindakan perencanaan dan penyerangan mendadak kali ini mengonfirmasikan hasil eksperimental di laboratorium dalam laporan tahun 2006 oleh para peneliti Institut Max Plank untuk Kajian Evolusi Antropologi (Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology) di Lepzig, Jerman. Dalam laporan itu disebutkan bahwa orangutan dan bonobo (jenis lain simpanse) terbukti mampu membuat peralatan untuk meraih buah-buahan anggur, dan punya daya ingat untuk selalu membawa peralatan tersebut untuk tugas yang sama dalam beberapa jam berikutnya.

“Ini merupakan hasil observasi yang amat penting,” kata Joseph Call, yang menulis laporan tersebut tahun 2006. “Setiap kali dilakukan kombinasi perubahan secara ekperimental, hasiilnya selalau konsisten sama.”

Ia menegaskan bahwa ada perbedaan besar secara individual di antara sesama simpanse,
sehingga hasil observasi tersebut tidak lantas memukul rata bahwa semua simpanse punya kemampuan dan perencanaan yang sama.

“Ini bisa membuktikan bahwa simpanse itu (yang menjadi sampel) punya tingkat kecerdasan (seperti juga manusia), sehingga dibutuhkan lebih banyak riset untuk simpanse lainnya. Namun berdasarkan hasil penelitian kami, perilaku yang cenderung sama juga terjadi pada orangutan dan bonobo,” tegas Call.

Sementara Osvath mengatakan, simpanse itu (Santino) teramati suka mengetuk-ngetuk tembok pelindung di taman hewan Furuvik untuk mengidentifikasi bagian terlunak dari bangunan itu dan melepas sejumlah bongkahan kecil dari tembok. Bila bongkahan itu terlalu besar untuk dilemparkan, ia akan memecahnya menjadi bagian yang lebih kecil, sebelum memanfaatkannya sebagai senjata lemparnya.

“Ini sangat unik… manakala ia (Santino) untuk pertamakalinya menyadari bisa menggunakannya sebagai senjata, ia kemudian memikirkan untuk menggunakannya dalam serangan mendadak terencana,” tutur OSvath. “Ini lebih kompleks dari yang kami ketahui sebelumnya.”

Kenyataannya, sang simpanse tetap tenang dalam menyiapkan senjatanya itu. Ia menggunakannya setelah melakukan penilaian situasi secara ekstrim, yang membuktikan bahwa tingkahlaku melalui perencanaan ini bukan didasari oleh sikap emosional yang mendadak muncul seketika.

Untuk sementara waktu, akibat “penyerangan bersenjata” itu, petugas taman hewan Furuvik mengandangkan Santino pada pagi hari agar ia tak bisa mengumpulkan amunisi untuk serangan berikutnya.

Simpanse biasanya hanya dilepas di alam terbuka antara April dan Oktober, dan perilaku unik Santino (menyerang manusia) biasanya muncul pada Juni dan Juli.

“Ini merupakan tingkah laku normal bagi pejatan pemimpin yang ingin memengaruhi lingkungan sekitarnya… namun ia agaknya frustasi karena melihat orang-orang yang berada di luar jangkauannya selalu menatapnya dan menertawakannya,” kata Osvath, “Mungkin ia merasa tidak suka terlihat aneh dan konyol setiap waktu.” (AP/BC/YN – dimuat di HARI INI edisi 10 Maret 2009)


Aksi

Information

2 responses

17 08 2009
B Maiwa

Wah kalau perkembangan akalx dpt melebihi manusia payahlah status kita sebagai penguasa bumi, kisah film bakal jadi seru dehhh

26 09 2009
tigerbear

demikianlah rahasia alam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: